
Gondanglegi – Kepala SMK NU Sunan Ampel Poncokusumo, Imron Sya’roni, S.Pd., M.Pd., membagikan praktik baik (best practice) penerapan sistem penilaian kinerja guru dan karyawan dalam ajang Asy-Syadzili School Management Development Program. Kegiatan yang diikuti oleh para pengelola dan pimpinan lembaga pendidikan ini diselenggarakan di Pondok Pesantren Asy-Syadzili 4, Gondanglegi, Kabupaten Malang, pada Senin (14/9/2026). Dalam kesempatan tersebut, Imron memaparkan pengalaman sekolahnya dalam membangun sistem manajemen kinerja guru yang terintegrasi langsung dengan pengembangan mutu sekolah melalui pendekatan yang inovatif.
Imron Sya’roni memperkenalkan QA-IPMS (Qowiyyul Amin Integrated Performance Management System), sebuah sistem manajemen kinerja yang dikembangkan secara mandiri di SMK NU Sunan Ampel Poncokusumo. Sistem ini menggunakan pendekatan Key Performance Indicator (KPI) berbasis peran, dampak, dan konteks tugas. Menurutnya, penilaian kinerja guru tidak semestinya berhenti pada pemberian skor atau angka semata. Sistem penilaian yang ideal harus mampu menggambarkan kontribusi guru terhadap perkembangan peserta didik dan kemajuan lembaga secara keseluruhan. Ia menekankan bahwa sekolah tidak ingin penilaian kinerja sekadar menghasilkan deretan angka administratif, melainkan harus mampu memperlihatkan bagaimana guru menjalankan perannya, memberikan dampak nyata kepada siswa, dan berkontribusi signifikan terhadap kemajuan lembaga.
Untuk mewujudkan visi tersebut, sistem KPI guru di SMK NU Sunan Ampel Poncokusumo dirancang dalam tiga lapis utama yang saling berkesinambungan. Lapis pertama adalah Guru Kompeten dan Berkinerja, yang menekankan pada kompetensi profesional serta pemenuhan tanggung jawab tugas pendidik. Lapis kedua, Guru Amanah dan Berdampak, bertujuan melihat sejauh mana pelaksanaan tugas tersebut memberikan dampak nyata terhadap peserta didik, proses pembelajaran, budaya sekolah, dan pencapaian lembaga. Sementara itu, lapis ketiga adalah Guru Berkarakter Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, yang menjadi fondasi nilai dalam menjalankan profesi pendidik di lingkungan pendidikan NU. Ketiga lapisan tersebut kemudian dijabarkan secara rinci ke dalam 7 komponen dan 36 indikator kinerja, membentuk instrumen penilaian utuh yang menyatukan kinerja profesional, amanah, dan karakter pendidik.
Dalam sesi dialog dan tanya jawab yang berlangsung interaktif, sejumlah peserta menyampaikan tantangan riil di lapangan, terutama terkait penerimaan dan resistensi guru terhadap proses evaluasi. Menanggapi dinamika tersebut, Imron menegaskan bahwa keberhasilan implementasi sistem kinerja tidak hanya diukur dari kualitas instrumennya, melainkan sangat bergantung pada pola pikir (mindset) seluruh warga sekolah. Penilaian kinerja harus ditempatkan sebagai bagian dari budaya perbaikan berkelanjutan. Ia mengingatkan para pimpinan lembaga bahwa mindset guru harus terus dikuatkan agar tidak alergi terhadap evaluasi, sebab penilaian sejatinya adalah proses mencari ruang perbaikan dan bukan sarana untuk mencari kesalahan.
Bagi SMK NU Sunan Ampel Poncokusumo, forum Asy-Syadzili School Management Development Program menjadi medium penting untuk berbagi praktik baik sekaligus belajar dari lembaga lain demi mewujudkan tata kelola pendidikan yang berorientasi pada peningkatan mutu. Pengembangan QA-IPMS diharapkan tidak sekadar menjadi kekuatan internal sekolah, tetapi juga mampu menginspirasi lembaga pendidikan lainnya dalam merancang manajemen kinerja yang terukur, kontekstual, berorientasi pada dampak, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman. Melalui penguatan sistem ini, SMK NU Sunan Ampel Poncokusumo meneguhkan komitmennya dalam membangun budaya sekolah yang profesional dan berkarakter, sebagai ikhtiar nyata menuju terwujudnya World Class Ma’arif Education.
