
Purwokerto – Semangat untuk terus belajar dan mengembangkan lembaga menjadi spirit Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Sekolah Kesehatan Indonesia (Persemki) Jawa Timur dalam melaksanakan benchmarking ke sejumlah SMK Ma’arif NU di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada 8–9 September 2026. Kegiatan tersebut diikuti oleh sekitar 40 kepala SMK Kesehatan se-Jawa Timur. Benchmarking ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menggali praktik baik pengelolaan lembaga pendidikan, khususnya dalam strategi penerimaan murid baru dan penguatan daya saing sekolah.
Rombongan terlebih dahulu mengunjungi SMK Ma’arif NU 01 Ajibarang, Banyumas. Sekolah dengan sekitar 2.200 peserta didik tersebut merupakan salah satu SMK unggulan di lingkungan Ma’arif NU dan telah menjalin kemitraan dengan Daihatsu. Salah satu praktik baik yang menjadi perhatian rombongan adalah penguatan kedisiplinan peserta didik dan budaya industri. Keduanya dibangun secara konsisten sehingga mampu mendukung kesiapan lulusan memasuki dunia kerja, terbukti dengan sekitar 80 persen lulusannya terserap pada dunia kerja yang relevan dengan kompetensinya. Selain penguatan budaya industri, sekolah ini juga memiliki prestasi gemilang hingga tingkat nasional dalam pengembangan bakat olahraga, khususnya melalui pembinaan futsal yang dilakukan secara serius.
Kunjungan kemudian dilanjutkan ke SMK Ma’arif NU 02 Ajibarang yang berlokasi tepat di depan SMK Ma’arif NU 01 Ajibarang. Dengan jumlah peserta didik sekitar 900 siswa, sekolah ini memiliki kekhasan pada konsentrasi keahlian bidang kesehatan. SMK Ma’arif NU 02 Ajibarang menonjolkan pengembangan kolaborasi strategis dengan dunia industri dan perguruan tinggi. Kolaborasi tersebut menjadi salah satu kekuatan utama lembaga dalam memberikan layanan pendidikan sekaligus menyiapkan keberlanjutan lulusan setelah mereka menyelesaikan pendidikan di bangku SMK.

Selain kunjungan lapangan ke dua sekolah tersebut, kegiatan benchmarking dirangkai dengan sharing session dan best practice. Dalam agenda ini, Kepala SMK NU Sunan Ampel Poncokusumo (SMK NUSA), Imron Sya’roni, berbagi pengalaman mengenai strategi penerimaan murid baru yang dikembangkan di sekolahnya. Imron memperkenalkan konsep SPMB 5.0, sebuah pendekatan yang menempatkan penerimaan murid baru bukan sekadar sebagai kegiatan administratif, tetapi sebagai bagian krusial dari strategi pengembangan lembaga. Ia menerangkan bahwa SPMB 5.0 merupakan hasil perkalian lima unsur, yaitu Data, Excellence, Branding, Engagement, dan Conversion.
Menurut Imron, Data menjadi pijakan untuk membaca potensi dan kebutuhan masyarakat, sementara Excellence adalah keunggulan nyata yang wajib dimiliki sekolah. Keunggulan tersebut kemudian dikomunikasikan melalui Branding yang kuat dan autentik. Selanjutnya, Engagement dibangun melalui keterlibatan sekolah dengan calon murid, orang tua, alumni, masyarakat, serta berbagai mitra strategis. Seluruh proses tersebut diarahkan pada Conversion, yakni mengubah kepercayaan dan ketertarikan masyarakat menjadi pilihan pasti terhadap sekolah. Imron menegaskan bahwa SPMB pada dasarnya adalah tentang bagaimana sekolah membangun kepercayaan masyarakat melalui keunggulan kompetitif yang benar-benar dimiliki secara nyata.
Bagi seluruh peserta, termasuk SMK NU Sunan Ampel Poncokusumo, kesempatan benchmarking ini menjadi wujud nyata dari penerapan budaya belajar lembaga. Setiap praktik baik yang ditemukan tidak semata-mata untuk ditiru mentah-mentah, tetapi dipelajari, dikontekstualisasikan, dan dikembangkan sesuai karakter serta potensi masing-masing sekolah. Semangat ini menjadi sangat penting di tengah tantangan lembaga pendidikan yang semakin kompetitif, di mana sekolah dituntut untuk menghadirkan keunggulan nyata, membangun komunikasi publik yang sehat, serta memberikan pengalaman pendidikan yang dipercaya masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Persemki Jawa Timur berharap berbagai praktik baik dari sekolah-sekolah unggulan di Banyumas dapat menjadi inspirasi untuk pengembangan SMK di Jawa Timur, khususnya dalam peningkatan jumlah peserta didik. Sementara itu, inisiatif berbagi pengalaman ini juga menjadi bagian dari semangat ta’awun (tolong-menolong) dalam memajukan pendidikan. Belajar dari lembaga lain, berbagi praktik baik, dan bergerak bersama kini menjadi ikhtiar nyata untuk menghadirkan pendidikan Ma’arif NU yang semakin berkualitas, berkarakter, adaptif terhadap perkembangan zaman, dan berdaya saing tinggi. Dari Banyumas, semangat belajar dan berbagi tersebut terus dibawa pulang untuk membangun masa depan pendidikan yang lebih unggul.
