Peringati HUT ke-97 LP Ma’arif NU, SMK NU Sunan Ampel Poncokusumo Canangkan Transformasi Menuju Pendidikan Kelas Dunia

Malang — Bertepatan dengan momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-97 Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) pada tahun 2026, SMK NU Sunan Ampel Poncokusumo (SMK NUSA) di Kabupaten Malang resmi meneguhkan komitmennya untuk melakukan transformasi pendidikan vokasi. Komitmen yang tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) 2026–2030 ini diarahkan untuk mewujudkan World Class Ma’arif Education yang unggul dalam kompetensi vokasional, tata kelola, digitalisasi, kemitraan industri, dan bahasa global, tanpa meninggalkan akar tradisi serta nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah (Aswaja).

Kepala SMK NU Sunan Ampel Poncokusumo, Imron Sya’roni, menjelaskan bahwa cita-cita menjadi sekolah kelas dunia dibangun di atas tiga landasan utama: keislaman, keindonesiaan, dan keilmuan global. Ia mengibaratkan langkah transformasi ini seperti pohon yang menjulang tinggi, di mana akarnya harus semakin kuat mencengkeram bumi. Melalui landasan tersebut, peserta didik dipersiapkan secara komprehensif agar menjadi individu yang beriman, berilmu, profesional, terampil, dan adaptif terhadap perubahan global, namun tetap memegang teguh identitas ke-NU-an.

Transformasi ini didukung oleh modal strategis yang solid dan telah teruji. Berdasarkan data tahun pelajaran 2026/2027, SMK NUSA menaungi 1.668 peserta didik yang tersebar di berbagai kompetensi keahlian, meliputi Teknik Komputer dan Jaringan, Teknik Kendaraan Ringan, Teknik Bisnis Sepeda Motor, Keperawatan, Agribisnis Tanaman Perkebunan, Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian, Lanskap dan Pertamanan, Kuliner, hingga Farmasi. Dukungan sumber daya manusia juga ditopang oleh 89 tenaga pendidik dan 10 tenaga kependidikan. Di sektor eksternal, sekolah telah menjalin 158 kesepakatan (MoU) dengan dunia usaha dan industri, yang secara langsung berdampak pada terserapnya 73,6 persen lulusan tahun 2026 di dunia kerja sesaat setelah lulus.

Berbekal jaringan yang luas tersebut, SMK NUSA kini menggeser paradigma strategisnya dari sekadar Link and Match menuju Link and Grow. Imron memaparkan bahwa industri tidak lagi sekadar menjadi tempat magang siswa, melainkan bagian utuh dari ekosistem pembelajaran. Guru dan siswa dapat belajar dari praktisi, kurikulum diselaraskan lewat dialog intensif bersama industri, dan program Teaching Factory terus dikembangkan. Langkah ini sejalan dengan tujuh pilar kebijakan strategis sekolah, yakni tata kelola mutu, digitalisasi, kompetensi SDM, daya saing lulusan, bahasa global, kemitraan internasional, dan karakter Aswaja.

Untuk memastikan pencapaian target tersebut, Renstra SMK NUSA telah memetakan lintasan transformasi bertahap selama empat tahun. Tahun pertama (2026/2027) difokuskan pada peletakan fondasi digital, standardisasi mutu, tata kelola, serta penguatan Aswaja. Memasuki tahun kedua, fokus bergeser pada kemandirian institusi dan sertifikasi kompetensi bagi siswa maupun guru. Tahun ketiga menargetkan penguasaan bahasa global dan kepemimpinan. Puncaknya pada tahun keempat (2029/2030), sekolah membidik fase eksposur global dan internasionalisasi melalui pertukaran pelajar, kemitraan sekolah luar negeri, sertifikasi internasional, hingga perluasan peluang kerja lulusan di ranah global.

Keberhasilan peta jalan menuju panggung dunia ini sangat bergantung pada peran tenaga pendidik. Menyadari bahwa transformasi teknologi dan sarana tidak akan bermakna tanpa pendidik yang mumpuni, sekolah mengusung nilai budaya “Guru Berdampak”. Guru dituntut tidak hanya mentransfer materi, tetapi mampu mengubah cara berpikir, menguatkan karakter, menemukan potensi, dan menyalakan harapan peserta didik. Sinergi ini dirangkum kuat dalam slogan “Kompeten Muridnya, Berdampak Gurunya, Terpercaya Sekolahnya.”

Menutup paparannya, Imron menegaskan bahwa globalisasi pendidikan tidak mengharuskan hilangnya identitas kultural dan keagamaan. Dengan tekad “Membangun Generasi Mendunia, Merawat Tradisi Ulama,” Renstra 2026–2030 diposisikan sebagai peta jalan nyata ekosistem pendidikan vokasi. SMK NU Sunan Ampel Poncokusumo siap membuktikan bahwa lembaga pendidikan Ma’arif mampu tampil modern, digital, dan profesional di level internasional, seraya membawa nama baik Nahdlatul Ulama dan Indonesia.